Showing posts with label Fiqih. Show all posts
Showing posts with label Fiqih. Show all posts

Friday, July 13, 2018

Macam-macam Mustahadlah (orang yang istihadhah)


Menurut Syaikh Ibrahim Al Bajuri dalam kitab karangannya, Al Bajuri menerangkan, bahwa mustahadlat, yakni orang yang mengeluarkan darah istihadlat terdapat tujuh macam ialah: 


Mubtadi’at Mumayyizat 

Mubtadi’at Mumayyizat: yaitu seorang wanita yang baru saja mengeluarkan darah haid pertama dan ia mampu membeda-beda kan darah yang dikeluarkan diantara darah kuat (tua) dengan darah le-mah(muda). Adapun darah yang lemah dinamakan istihadlat dan darah yang kuat dinamakan haid. Apakah darah yang kuat itu keluar lebih dulu, atau terakhir atau di tengah, selama tidak silih berganti. 

Mubtadi’at Mumayyizat dapat dihukumi seperti di atas, apabila menepati syarat-syarat empat perkara sebagai berikut: 
  1. Darah kuat tidak lebih dari masa sehari semalam. 
  2. Darah kuat tidak lebih dari 15 hari dan 15 malam. 
  3. Darah yang lemah tidak kurang dari 15 hari dan 15 malam. 
  4. Antara darah kuat dengan darah lemah harus tidak silih berganti. 
Apabila syarat empat perkara tersebut tidak cukup, maka ia terma suk golongan Mubtadi’at Ghairu Mumayizat, sebagaimana yang akan diterangkan. 

Bagi Mubtadi’at Mumayyizat pada bulan pertama dalam melaksa-nakan mandi harus menunggu penuhnya 15 hari dan 15 malam. Dan ia kewajiban mengqadla shalat yang ditinggalkan, selama mengeluarkan darah lemah. Pada bulan kedua dan seterusnya, ia dalam melaksanakan mandi sewaktu-waktu darah kuat yang keluar sudah berganti dengan darah lemah. Pada bulan itu ia tidak mempunyai hutang shalat.


Contoh-Contoh 
  1. Seorang wanita mengeluarkan darah kuat selama tiga hari, lalu mengeluarkan darah lemah 27 hari, maka yang tiga hari pertama dihukumi darah haid, dan yang 27 hari terakhir dihukumi darah istihadlat.
  2. Seorang wanita mengeluarkan darah kuat tujuh hari, lalu menge-luarkan darah lemah sembilan hari, maka tujuh hari yang pertama dihukumi darah haid dan yang sembilan hari dihukumi darah istihadlat. 
  3. Seorang wanita mengeluarkan darah lemah selama 11 hari, lalu mengeluarkan darah kuat 12 hari,maka 11 hari yang pertama di-hukumi darah istihadlat, sedangkan 12 hari yang akhir dihukumi darah haid. 
  4. Seorang wanita mengeluarkan darah lemah selama lima hari, lalu mengeluarkan darah kuat selama enam hari, kemudian keluar lagi darah lemah selama 19 hari, maka darah lima hari yang pertama dihukumi darah istihadlat, enam hari yang di tengah-tengah di hukumi darah haid dan 19 hari yang terakhir dihukumi darah istihadlat lagi (Syarah al-Tahrir dengan Hasyiyah al-Syarqawi: 1/153, Hasyiyah Syarwani ala al-Tuhfah: 1/402).

Mubtadi’at Ghairu Mumayyizat

Mubtadi’at Ghairu Mumayyizat, yakni seorang anak wanita yang baru haid pertama kali, dan tidak bisa membeda-bedakan darah yang dikeluarkan antara darah kuat dengan darah lemah, atau ia mam-pu membeda-bedakan darah yang dikeluarkan, tetapi tidak memenuhi syaratsyarat Mubtadi’at Mumayyizat yang jumlahnya ada empat macam seperti tersebut di atas. 

Adapun hukumnya yang disebut haid hanya sehari semalam, dan masa sucinya adalah 29 hari dan malam untuk setiap bulannya sekira ia ingat waktu pertama mulai mengeluarkan darah. Namun apabila ia tidak ingat akan permulaannya mengeluarkan darah, maka ia termasuk golongan Mustahadlat Mutahayyirat (Mustahadlat yang kebingungan). Insya Allah hukumnya akan diterangkan di atas (Hasyiyah Al-Bajuri: 1/110).

Bagi seseorang Mubtadi’at Ghairu Mumayyizat ini untuk bulan pertama dalam melaksanakan mandi, harus menunggu lengkapnya keluar darah 15 hari dan malam. Dan ia diwajibkan mengqadla shalat selama 14 hari dan malamnya. Untuk bulan kedua dan seterusnya, di-dalam melaksanakan mandi, ia tidak lagi perlu menunggu sampai leng-kapnya 15 hari dan malam, tetapi apabila darah sudah cukup sehari semalam, maka ia sudah kewajiban mandi. Pada bulan ini ia tidak mem-punyai hutang shalat (Hasyiyah al-Jamal ‘ala Syarhi al-Minhaj:1/249). 

Contoh-Contoh 

Sebagai contoh-contoh dari masalah Mubtadi’at Ghairu Mumayyi-zat antara lain adalah sebagai berikut: 
  1. Seorang wanita mengeluarkan darah selama satu bulan, yang semua sifatsifatnya (kuat atau lemah) adalah sama, maka yang dihukumi darah haid hanya masa sehari semalam yang pertama. Adapun seterusnya dihukumi darah istihadlat. 
  2. Seorang wanita mengeluarkan darah selama empat bulan berturut turut, yang semua sifat-sifatnya adalah sama, maka yang dihukumi darah haid hanya empat hari dan malamnya, yaitu satu hari satu malam yang pertama. Sehari semalam tanggal 1 bulan kedua (31 harinya), sehari semalam tanggal 1 bulan ketiga (61 harinya), dan sehari semalam tanggal 1 bulan keempat (91 harinya). Adapun selain empat hari dan malamnya, semuanya itu dihukumi darah istihadlat. 
  3. Seorang wanita mengeluarkan darah selama 16 hari, yang segala sifatnya adalah sama, maka yang dihukumi darah haid hanyalah sehari semalam yang pertama. Adapun hari seterusnya dinamakan darah istihadlat. 
  4. Seorang wanita mengeluarkan darah selama 25 hari. Yang 23 jam darah kuat dan yang seterusnya darah lemah, maka yang dihukumi darah haid hanya sehari semalam yang pertama. Adapun hari yang seterusnya dinamakan darah istihadlat. 
  5. Seorang wanita mengeluarkan darah selama 25 hari. Yang 16 hari darah kuat dan yang seterusnya darah lemah, maka yang dihukumi darah haid hanyalah sehari semalam yang pertama. Sedangkan hari yang seterusnya dihukumi darah istihadlat.
  6. Seorang wanita mengeluarkan darah selama 25 hari. Yang enam hari darah kuat, sedangkan yang 14 hari darah lemah, dan yang lima hari keluar darah kuat lagi, maka yang dihukumi darah haid hanyalah sehari semalam yang pertama. Adapun hari selanjutnya dinamakan darah istihadlat.
  7. Seorang wanita mengeluarkan darah selama 25 hari. Sehari semalam keluar darah kuat dan sehari semalam keluar darah lemah, berselang seling seperti itu hingga sampai akhir, maka yang dihukumi darah haid hanyalah sehari semalam yang pertama. Sedang hari seterusnya dihukumi darah istihadlat. 
Mu’tadat Mumayyizat

Mu’tadat Mumayyizat, yakni seorang wanita yang sudah pernah haid dan pernah suci. Ia mampu membeda-bedakan darah yang dikeluarkan pada antara darah kuat dengan darah lemah. Hukumnya sama dengan Mubtadi’at Mumayyizat. Kecuali kalau antara lamanya ke-biasaan lamanya haid dengan perbedaannya darah ada tenggang selama 15 hari dan malamnya (waktu yang cukup untuk masa suci).
Contoh
Pada kebiasaan wanita haid itu tiga hari, kemudian pada suatu bulan ia mengeluarkan darah 21 hari. Yang 19 hari darah lemah, sedang yang dua hari darah kuat, maka yang dihukumi darah haid lima hari. Tiga hari yang pertama, karena disamakan dengan kebiasaannya, dua hari yang terakhir, karena adanya perbedaan darah. Adapun 16 hari yang tengah-tengah, dihukumi darah istihadlat.

Mu’tadat Ghairu Mumayyizat Dzaakirat Li’adatiha Qadran wa Waqtan

Mu’tadat Ghairu Mumayyizat Dzaakirat Li’adatiha Qadran wa Waqtan, yakni Seorang wanita yang sudah pernah haid dan pernah suci. Ia tidak mampu membeda-bedakan darah yang dikeluarkan antara darah yang kuat dengan darah yang lemah. Atau ia mampu membeda-bedakan darah yang dikeluarkannya, tetapi tidak memenuhi syarat-syarat Mubtadi’at Mumayyizat yang jumlahnya empat macam, yang juga menjadi syarat-syarat Mu’tadat Mumayyizat. Dan ia ingat pada lamanya permulaan keluar darah haid yang telah lalu.
Adapun hukumnya lama dan permulaan haid itu disamakan deng an kebiasaannya. Kebiasaan yang dapat digunakan untuk pedoman itu, cukup satu kali selama tidak berubah.

Contoh
Seorang wanita pada bulan pertama haid lima hari mulai permulaannya bulan, lalu suci selama 25 hari, kemudian ia mulai bulan yang kedua istihadlat dengan mengeluarkan darah yang tidak bisa dibedakan antara darah kuat dengan darah lemah, atau bisa dibeda-bedakan, tetapi tidak memenuhi syarat empat perkara, maka yang dihukumi haid ialah lima hari pertama. Dan yang dihukumi suci adalah 25 hari yang akhir untuk setiap bulannya seperti bulan pertama. 

Apabila kebiasaannya berubah, maka harus disyaratkan dua putaran dengan urutan yang tetap serta teringat pada urutannya itu. Sebagai contoh dikemukakan: Seorang wanita pada bulan kesatu haid tiga hari, bulan kedua haid lima hari, bulan ketiga haidl tujuh hari, bulan keempat haid tiga hari, bulan kelima haid lima hari, pada bulan keenam haid tujuh hari. Lalu mulai bulan ketujuh ia istihadlat sampai beberapa bulan dengan mengeluarkan darah yang semua sifatnya sama, atau yang dibeda-bedakan antara darah kuat dengan darah lemah, tetapi tidak cukup syarat empat perkara, dan ia teringat pada urutannya haid yang sudah lewat, maka bulan ketujuh yang dihukumi darah haid adalah tiga hari. Bulan ke delapan yang dihukumi haid lima hari, bulan ke sembilan yang dihukumi haid tujuh hari, bulan ke sepuluh yang di hukumi haid tiga hari, bulan ke sebelas yang dihukumi haid hanya tiga hari dan bulan ke duabelas yang dihukumi haid tujuh hari. Dan untuk bulanbulan selanjutnya tinggal menyamakan seperti halnya urutan yang sebagaimana tersebut di atas (Syarhu al-Tahrir serta Hasyiyah Al Syar-qawi: 1/155).

Apabila urutannya tidak tetap serta teringat pada haid yang tepat sebelum istihadlat, maka haidnya disamakan dengan bulan yang tepat sebelum istihadlat. Contohnya: Seorang wanita, pada bulan ke satu haid tiga hari, bulan kedua haid lima hari, bulan ketiga haid tujuh hari, bulan keempat haid tujuh hari, bulan kelima haid tiga hari, bulan enam haid lima hari, lalu mulai bulan ketujuh ia istihadlat sampai beberapa bulan dengan mengeluarkan darah yang semua sifatnya adalah sama. Atau dapat dibedabedakan, tetapi tidak memenuhi empat syarat di atas, serta ia teringat lamanya haid yang tepat sebelum istihadlat, maka yang dihukumi haid selama lima hari untuk setiap bulannya. Akan tetapi apabila tidak sampai dua kali putaran serta teringat pada haid yang tepat sebelum istihadlat, maka haidnya juga disamakan dengan bulan yang tepat sebelum istihadlat. 
Contoh lain: Seorang wanita pada bulan kesatu haid tiga hari, bulan kedua haid lima hari, bulan ketiga haid tujuh hari. Kemudian mulai bulan keempat ia mengeluarkan darah istihadlat sampai beberapa bulan ke depan dengan mengeluarkan darah yang semua sifatnya adalah sama. Atau dapat dibeda-bedakan antara darah kuat dengan darah lemah, tetapi tidak memenuhi syarat-syarat yang empat perkara, dan ia teringat lamanya haid yang tepat sebelum istihadlat, maka yang dihukumi haid ialah tujuh hari untuk tiap-tiap bulannya. 

Apabila urutannya tetap, akan tetapi ia lupa sebenarnya bilangan lamanya haid untuk setiap bulannya, maka ia kewajiban mandi pada setiap akhir hitungan haid yang sudah lewat. 
Contoh lagi: Seorang wanita pada bulan kesatu haid tujuh hari, bulan kedua haid lima hari, bulan ketiga haid tiga hari, bulan ke empat haid tujuh hari, bulan ke lima haid lima hari, bulan ke enam haid tiga hari. Kemudian mulai bulan ke tujuh, ia istihadlat hingga beberapa bu-lan dengan mengeluarkan darah yang semua sifatnya adalah sama, atau dapat dibedabedakan antara darah kuat dengan darah lemah, tetapi tidak memenuhi syarat-syarat empat macam, dan dia lupa akan benar-nya bilangan lamanya haid untuk bulan pertama serta bulan-bulan se-terusnya, apakah benar yang tiga hari atau lima hari, atau apakah yang tujuh hari, maka ia setiap bulannya kewajiban mandi tiga kali, yaitu akhirnya hari yang ketiga, akhirnya hari yang kelima dan akhirnya hari yang ketujuh. Ia pada waktu antara mandi pertama dengan mandi paling akhir, kewajiban hati-hati, yakni kewajibkan shalat fardlu dan kewajiban lainnya, seperti orang yang keadaan suci. Dan diharamkan bersetubuh, membaca al-Qur’an dan lainnya seperti halnya wanita yang sedang haid. 

Manakala urutannya tidak tetap dan si wanita itu terlupa sebenar-nya bilangan lamanya haid bulan yang tepat sebelun istihadlat, maka ia diwajibkan mandi juga setiap akhir bilangan lamanya haid yang sudah lewat. Contohnya: 
Seorang wanita pada bulan kesatu mengeluarkan darah haid tiga hari, bulan kedua haid lima hari, bulan ketiga haid tujuh hari, bulan keempat haid tujuh hari, bulan kelima haid tiga hari, bulan keenam haid lima hari, lalu bulan ketujuh ia istihadlat hingga beberapa bulan dengan mengeluarkan darah yang semua sifatnya adalah sama. Atau mampu memisah-misahkan antara darah kuat dengan darah lemah, tetapi tidak mencukupi syarat empat macam itu. Ia terlupa kebenaran lamanya haid bulan yang tepat sebelum ia istihadlat, Apakah benar yang tiga hari, li-ma hari, apakah benar yang tujuh hari, maka ia setiap bulan wajib akan mandi tiga kali. Yaitu akhir hari ketiga, akhir hari kelima dan akhir hari ketujuh. Dan ia waktu diantara mandi pertama dengan mandi terakhir adalah diwajibkan berhati-hati dengan segala perintah dan segala larang an seperti tersebut di atas. 

Apabila tidak sampai dua kali putaran, dan ia terlupa kebenar-annya bilangan lamanya haid bulan yang tepat sebelum istihadlat, maka ia juga diwajibkan mandi setiap akhir bilangan lamanya haid yang lewat. Contohnya: 
Seorang wanita pada bulan kesatu haid tiga hari, bulan kedua haid lima hari, bulan ketiga haid tujuh hari. Lalu mulai bulan keempat, ia istihadlat sampai beberapa bulan dengan mengeluarkan darah yang semua sifatnya adalah sama. Atau bisa dibeda-bedakan antara darah kuat dengan darah lemah, tetapi tidak memenuhi syarat yang empat macam itu. Atau ia terlupa kebenaran bilangan lamanya haid bulan yang tepat sebelum istihadlat, Apakah benar yang tiga hari, lima hari atau yang tujuh hari. Maka iapun setiap bulannya diwajibkan mandi tiga kali, yaitu akhir hari yang ketiga, dan akhir hari yang kelima dan akhir hari yang ketujuh. Ia pada waktu antara mandi pertama dengan mandi tera-khir, diwajibkan berhati-hati sebagaimana tersebut di atas. 

Bagi Mustahadlat Mu’tadat Ghairu Mumayyizat zakirat li’adatiha, Qadran wa Waqtan itu untuk bulan pertama istihadlat, caranya mandi harus menunggu lengkapnya keluar darah 15 hari dan malamnya. Ia di-wajibkan mengqadla shalat yang ditinggalkan setelah lengkap kebiasa-annya haid. 
Adapun untuk bulan kedua dan bulan-bulan seterusnya, didalam melaksanakan mandi tidak perlu lagi menunggu lengkapnya 15 hari dan malam. Tetapi sewaktu-waktu keluar darah sudah cukup kebiasaan haid, ia sudah kewajiban mandi. Untuk bulan ini, ia tidak mempunyai hutang shalat

Pengertian Nifas, Waktu Nifas dan Sucinya

Definisi Nifas
    Nifas menurut bahasa berarti melahirkan. Adapun menurut istilah Syara’, Nifas ialah darah yang keluar dari kemaluan seorang wanita setelah melahirkan (wiladah),  sebelum melampui 15 hari  malam dari lahirnya anak. Permulaan nifas itu dimulai dari keluarnya darah, bukan dari keluarnya anak.
        Darah yang keluar bersama bayi atau sebelum melahirkannya, tidak dihukumi darah nifas, tetapi termasuk darah istihadlat atau darah rusak (darah penyakit). (Fathul Qarib: 109, Bughiyatul Mustarsyidin: 22). 
          Waktu Nifas  Sucinya
            Sekurang-kurangnya seorang wanita keluar darah nifas adalah satu tetesan, kebiasaannya Nifas 40 hari  malam, sedang sebanyak-banyaknya nifas, selama 60 hari  malam. Semuanya ini juga dengan dasar hasil penelitian Imam Syafi’i Ra. Kepa-da wanita Arab di Timur Tengah (Hasyiyah Al-Bajuri: 1/111  Abyanal Hawaij: 11/268). 
              Paling lama nifas 60 hari tersebut, di hitung mulai dari keluarnya bayi. Adapun yang dihukumi darah nifas itu mulai dari keluarnya darah. sehingga, seumpama seorang wanita melahirkan anak pada tanggal1 kemudian ketika mengeluarkan darah mulai tanggal 5 itu penuh 60 hari  malamnya, dimulai tanggal 5,  yang dihukumi darah nifas adalah mulai tanggal 5. Adapun waktu antara lahirnya bayi dengan keluarnya darah, dihukumi suci. Oleh karena itu dia tetap kewajiban salat  kewajiban kewajiban yang lain.
                Aneka Macam Darah
                            Faidah untuk mengetahui hukum-hukum istihadlat yang akan dibicarakan, maka harus lebih dahulu mengetahui, bahwa darah itu ada yang kuat (warnanya tua)  ada yang lemah (warnanya muda). untuk mengetahui perbedaan antara darah yang kuat dengan darah yang le-mah, harus mengetahui warna-warnanya, rupa-rupa  sifat-sifatnya darah. Warnanya sebanyak 5 macam ialah:
                    1.  Darah hitam,
                      2.  Darah merah,
                        3.  Darah merah semu kuning,
                          4.  Darah kuning,
                            5.  Darah keruh.
                                        Darah hitam lebih kuat daripada darah merah, darah merah lebih kuat daripada darah merah semu kuning, darah merah semu kuning   lebih kuat daripada darah kuning, darah kuning lebih kuat daripada darah keruh (Fathul Wahhab pada Hamisy Sulaiman al-Jamal: 1/247).
                                Sifat-Sifat Darah
                                            Adapun sifat-sifat darah sebanyak empat macam ialah:
                                    1.  Darah kental  bau busuk
                                      2.  Darah kental belaka
                                        3.  Darah bau busuk
                                          4.  Darah tidak kental  tidak bau busuk.
                                                      Darah kental lebih kuat daripada darah cair, darah berbau busuk lebih kuat daripada darah yang tidak berbau busuk, darah hitam kental lebih kuat daripada darah hitam tidak kental,  darah kental berbau busuk lebih kuat daripada darah kental saja. atau berbau busuk saja (Fathul Wahhab pada Hamisy Sulaiman al-Jamal: 1/247).
                                            Tanda-Tanda Baligh Bagi Laki-laki

                                            Tanda-Tanda Baligh Bagi Laki-laki

                                            Adapun tanda-tanda balig bagi seorang anak lelaki sebanyak empat perkara. Apabila didapati pada seorang anak lelaki salah satu dari empat perkara, maka anak tersebut dihukumi sudah berumur balig, yaitu sebagai berikut:
                                            1. Sudah sampai umum 15 tahun Qamariyah (penanggalan bulan).
                                            2. Keluar air mani dari kemaluan setelah umur 9 tahun Qamariyah. 
                                            3. Keluar bulu kemaluan setelah umur 9 tahun Qamariyah. (Tabyinal Ishlah: 157). 
                                            Tanda-Tanda Baligh Bagi Wanita

                                            Tanda-Tanda Baligh Bagi Wanita

                                            Tanda-tanda baligh bagi seorang anak wanita terdapat lima macam. Apabila salah satu dari lima perkara terdapat padanya, maka dihukumi sudah baligh, ialah sebagai berikut: 
                                            1. Sudah sampai umur 15 tahun Qamariyah (penanggalan bulan).
                                            2. Keluar air mani dari kemaluan setelah umur 9 tahun Qamariyah. 
                                            3. Keluar darah Haid setelah umur 9 tahun Qamariyah Taqriban, yaitu kira-kira atau kurang  sedikit dari 15 hari, walaupun hanya sebentar (Kasyifatu al Syaja: 16). 
                                            4. Keluar bulu kemaluan setelah umur 9 tahun Qamariyah (Tabyinal Ishlah: 157). 
                                            5. Dan kedua buah dadanya sudah menonjol ke depan secara jelas (Bidayatul Ummat:    )
                                            Pengertian Haid dan Waktu Haid serta Sucinya

                                            Pengertian Haid dan Waktu Haid serta Sucinya


                                            • Definisi Haid

                                            Haid menurut bahasa artinya ialah mengalir. Adapun menurut istilah Syara’, yang dinamakan haid ialah darah yang kebiasaan keluar dari farji (kemaluan) seorang wanita yang telah berusia sembilan tahun,  bukan karena melahirkan, dalam keadaan sehat dan warnanya merah semu hitam menghanguskan (Fathul Qarib:10).

                                            • Awal Haid
                                            Usia paling muda waktu keluar darah haid bagi seorang anak wanita, ialah berumur 9 tahun Qamariyah Taqriban (kira-kira). Adapun pengertian taqriban atau kira-kira ialah, apabila seorang anak wanita yang cukup umur 9 tahun kurang 16 hari dan malamnya ke atas (waktu yang cukup digunakan paling sedikitnya haid dan paling sedikitnya suci), mengeluarkan darah, maka tidak dihukumi haid, tetapi dihukumi darah istihadlah atau darah rusak (Fathul Qarib pada Hamisy Al Bajuri:1/112 dan Abyanal Hawaij: 11/268) 

                                            Adapun pada waktu mengeluarkan darah seorang wanita, sudah berusia 9 tahun kurang dibawahnya 16 hari dan malam (waktu yang tidak cukup untuk paling sedikitnya haid serta paling sedikitnya suci) maka dihukumi darah haid.

                                            Apabila seorang wanita mengeluarkan darah beberapa hari yang sebagian sebelum waktunya bisa haid, dan yang sebagian lagi setelah waktunya bisa haid, maka darah yang pertama dihukumi darah istiha-dlah, dan darah yang akhir dihukumi darah haid.
                                            • Waktu haid dan sucinya
                                            Seorang wanita mengeluarkan darah yang dihukumi haid adalah sekurang-kurangnya masa sehari semalam atau 24 jam, baik selama 24 jam itu darah keluar terus menerus, atau terputus-putus selama 15 hari dan malam. Yakni suatu tempo keluar darah di tempo lain putus darah, yang seandainya mengeluarkan darahnya itu terjumlah cukup 24 jam, hal ini dihukumi darah haid, asalkan semuanya itu masih didalam 15 hari dan malam. 

                                            Sehingga, apabila darah yang keluar jumlahnya tidak cukup 24 jam, tidaklah dihukumi darah haid, melainkan dihukumi darah istihadlat (Minhaju al-Qawim: 29 dan Abyanal Hawaij: 11/268). 

                                            Bahwa yang dimaksud dengan bil ittishal atau terus menerus yaitu seumpama kapuk kapas dimasukkan ke dalam kemaluan wanita, masih adanya darah itu, masih dihukumi mengeluarkan darah, sekalipun darah tidak sampai ke luar ke tempat yang wajib dibasuh ketika istinja’ (bersuci). Hasyiyah Al Turmusi ala al Minhaju al-Qawim: 1/538). 

                                            Adapun sebanyak-banyaknya seorang wanita mengeluarkan darah haid adalah 15 hari dan 15 malam. Pada kebiasaanya, mengeluarkan darah haid selama 6 atau 7 hari dan malam. Semuanya ini berdasarkan hasil penelitian Imam Syafi’i Ra kepada wanita Arab di Timur Tengah. Adapun paling lamanya seorang wanita mengeluarkan darah haid adalah 15 hari dan malam (Al Minhaju al-Qawim: 29). 

                                            Dan sekurang-kurangnya suci yang memisahkan antara satu haid dengan haid yang lain ialah 15 hari dan 15 malam. Adapaun sebanyak-banyaknya suci tidak ada batasnya, bahkan kadang sudah tidak keluar darah haid lagi, karena usia atau keadaan. Dan pada kebiasaannya suci tersebut meliha kepada kebiasaannya haid. Apabila haidnya enam hari, maka sucinya adalah 24 hari, dan apabila haidnya itu tujuh hari, maka sucinya adalah 23 hari (Qutu alHabib: 44). 

                                            Thursday, December 11, 2014

                                            Tata Cara BersuciI Setelah Haid, Nifas, Istihadhah, Dan Junub


                                            Mandi Sekali Setelah Suci Dari Haid

                                            Dari Adi bin Tsabit (Al Anshari), dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi s.a.w. tentang wanita yang menderita darah penyakit, yaitu: “Dia meninggalkan shalat selama hari-hari haidnya, kemudian mandi dan mengerjakan shalat, lalu berwudhu’ untuk setiap kali shalat” Dari ‘Urwah (menurut sebagian Al Muzanni, dan menurut lainnya dia Ibnu Zubair), dari Aisyah r.a.dia berkata: “Fathimah bintu Abi Hubaisy pernah datang kepada Nabi s.a.w. (disebutkannya berita itu). Beliau bersabda: “Kemudian mandilah, lalu berwudhu’lah untuk setiap shalat dan shalatlah !”

                                            A. Ditinjau secara Syariat Islam

                                            Tata cara mandi setelah mengalami perdarahan haid, nifas, junub, atau istihadhah menurut syariat Islam telah dijelaskan melalui petunjuk Nabi Muhammad s.a.w, berdasarkan sabda-sabdanya yang shahih, yaitu : Dari Aisyah r.a, dia berkata : Asma’ binti Syakal r.a bertanya kepada Nabi s.a.w (tentang mandi haid), beliau bersabda , “Salah seorang diantara kalian (wanita) mengambil air dari sidrah -nya. Kemudian dia bersuci (berwudhu) dan membaguskan bersucinya, kemudian dia menuangkan air ke atas kepalanya lalu menggosok-gosokkannya dengan kuat sehingga air sampai pada kulit kepalanya, kemudian dia menyiramkan air ke badannya, lalu mengambil sepotong kain atau kapas yang telah diberi minyak wangi, kemudian dia bersuci (membersihkan tubuhnya) dengannya”. Kemudian Asma’ berkata, “Mahasuci Allah”. Maka Aisyah berkata kepada Asma’, “Engkau mengikuti (mengusap) bekas darah (dengan kapas atau kain itu).” (HR Muslim) Imam An-Nawawi berkata bahwa jumhur ulama’ berkata, “(bekas darah) adalah farji (kemaluan)”. Beliau berkata ,” ..... sunnah bagi wanita yang mandi dari haid adalah mengambil minyak wangi kemudian menuangkannya pada kapas, kain, atau semacamnya, lalu memasukkannya ke farji-nya setelah selesai mandi, hal ini disukai juga bagi wanita-wanita yang nifas karena nifas itu adalah haid.”


                                            Ø Syarat-Syarat Mandi

                                            • Niat.
                                            • Beragama Islam.
                                            • Berakal sehat.
                                            • Tamyiz
                                            • Air yang dipakai suci dan mubah.
                                            • Tidak ada hal-hal yang menghalangi sampainya air ke kulit.
                                            • Telah berhentinya hal-hal yang mewajibkan mandi.

                                            Ø Tata Cara Mandi
                                            • Berniat di dalam hati. Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Umar bin Khathab: Rasulullah s.a.w bersabda, “Sesungguhnya amalan-amalan seseorang bergantung pada niatnya dan seseorang akan mendapatkan balasannya sesuai dengan niatnya”. (HR Bukhari dan Muslim.
                                            • Membaca basmalah Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah (HR Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, dan Al-Albani)
                                            • Mencuci telapak tangan dahulu sebanyak 3 kali Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Maimunah (HR Bukhari Muslim)
                                            • Mencuci kemaluan dengan tangan kirinya Seseorang yang mandi haid atau junub hendaknya mencuci kemaluannya dengan tangan kiri. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Maimunah (HR Bukhari Muslim).
                                            • Membersihkan tangan kirinya Seseorang yang mandi haid atau junub hendaklah mencuci tangan kirinya setelah digunakan untuk mencuci kemaluannya dengan cara sebagai berikut:
                                            1. Menggosok-gosokkan tangan kiri tersebut ke tanah, lalu mencucinya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Maimunah (HR Bukhari Muslim).
                                            2. Mencucinya dengan air sabun. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Aisyah r.a., dia berkata,”Asma’ binti Syakal r.a.bertanya kepada Nabi s.a.w. (tentang mandi haid), beliau bersabda, “Salah seorang di antara kalian (wanita) mengambil air dari sidrah-nya .....” (HR Muslim dan Al-Albani).
                                            • Berwudhu Seseorang yang hendak mandi haid atau junub, setelah mencuci kemaluannya, hendaklah berwudhu secara sempurna sebagaimana berwudhu ketika hendak shalat. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Aisyah r.a. (HR Bukhari Muslim) atau boleh juga berwudhu dengan membasuh kaki di akhir rangkaian mandi, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Aisyah r.a. dan Maimunah r.a. (HR Bukhari).
                                            • Menyela-nyela rambut dengan air secara merata dan menyiramkannya ke kepala Seseorang yang hendak mandi haid atau junub, hendaklah menyela-nyelai rambut dengan air secara merata, lalu menyiramkannya ke kepala sebanyak tiga kali sepenuh dua telapak tangan. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Maimunah r.a. (HR Bukhari).
                                            Ketika menyiramkan kepala, hendaklah dimulai dari kepala bagian kanan, kiri, kemudian bagian tengahnya. Hal ini berdasarkan hadits yang driwayatkan dari Aisyah r.a., “Kami (para isteri Nabi s.a.w.) apabila salah seorang diantara kami junub maka dia mengambil (air) dengan kedua telapak tangannya tiga kali lalu menyiramkannya ke bagian tubuh yang kanan dan dengan tangan yang lain (menyiramkannya) ke bagian tubuh yang kiri” (HR Bukhari Muslim).

                                            Ibnu Hajar Al-Atsqalani berkata, “Hadits ini mempunyai hukum marfu’ karena lahirnya adalah bahwa Nabi s.a.w. mengetahui hal yang demikian itu. Bagi wanita yang hendak mandi haid atau junub dibolehkan tidak melepas ikatan rambutnya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ummu Salamah r.a., ia berkata, “Wahai Rasulullah, saya suka mengikat rambut. Apakah saya harus melepaskannya ketika mandi junub?” Rasulullah s.a.w. menjawab, “Tidak, kamu cukup menyiramkan air pada kepala tiga kali, selanjutnya meratakannya ke seluruh tubuh. Dengan cara begitu kamu telah suci.” (HR Muslim, Abu Daud, Turmudzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

                                            Setelah mandi wajib karena haid, seorang wanita dianjurkan melepaskan ikatan rambutnya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Aisyah r.a., ia berkata, “Aku mendapati hari Arafah dalam keadaan haid maka aku mengadu kepada Rasulullah s.a.w. kemudian beliau bersabda, “Tinggalkanlah rangkaian ibadah umrahmu, lepaskanlah ikatan (uraikanlah) rambutmu (setelah mandi) dan sisirlah rambutmu”. (HR Bukhari) I

                                            Imam Bukhri telah memasukkan hadits ini dalam bab “Naqdhul Mar’ati Sya’roha ‘Inda Ghuslil Mahidhi” dan mengatakan bahwa pengambilan dalil dengan hadits ini tidaklah sempurna karena yang datang dalam hadits Aisyah r.a. ini bukanlah mandi haid. Aisyah r.a. hanya diperintahkan mandi untuk melakukan ihran dalam haji, padahal dalam keadaan haid (belum suci). Jadi, hal ini adalah mandi (untuk) kebersihan bukan mandi dari haid. Hal ini menunjukkan bahwa dalil pada hadits tersebut belum dapat dijadikan hujjah tentang wajibnya menguraikan jalinan rambut pada saat mandi haid dan sebagian ahli ‘ilmi telah mengisyaratkan akan hal tersebut.

                                            Jika menguraikan rambut adalah wajib, beliau pasti menyebutkannya karena tidak boleh mengakhirkan penjelasan dari saat (waktu) kebutuhan. Musthofa Al-‘Adawy berkata (dinukil dari Ibnu Qudamah), “Wanita menyukai untuk menguraikan jalinan rambutnya apabila mandi dari haid, tetapi hal ini tidaklah wajib. Hal ini adalah pendapat kebanyakan ahli fiqih dari shahih” .

                                            Mandi dari haid seperti mandinya dari junub, keduanya tidak berbeda. Musthofa Al-‘Adawy berkata, “Wajib bagi wanita untuk menetapkan sampainya air ke pangkal rambutnya pada waktu mandinya dari haid, baik dengan menguraikan jalinan rambut maupun tidak. Apabila airnya tidak sampai pada pangkal rambut, kecuali dengan menguraikan jalinan rambut, dia (wanita tersebut) menguraikannya (bukan karena menguraikan jalinan rambut adalah wajib) agar ia dapat sampai ke pangkal rambutnya.

                                            Menurut pendapat yang paling mendekati kebenaran dan rajih adalah seorang wanita yang mandi junub, tidak wajib menguraikan rambutnya terlebih dahulu, sedangkan seorang wanita yang mandi haid, wajib menguraikan rambutnya terlebih dahulu dan wajib bagi seorang wanita jika telah bersih dari haid untuk mandi dengan membersihkan seluruh anggota badan, sampai ke pangkal rambut. h. Menyiramkan air ke seluruh tubuh Seseorang yang mandi haid, nifas, atau junub, diwajibkan meratakan air ke seluruh tubuhnya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Aisyah r.a. dan Maimunah r.a. (HR Bukhari Muslim). Kemudian ketika menyiramkan air ke tubuh hendaknya dimulai dari tubuh bagian kanan, kemudian bagian kiri. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Aisyah r.a. “Sesungguhnya Nabi s.a.w. suka mendahulukan bagian yang kanan ketika memakai sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam segala urusan beliau.” (HR Bukhari Muslim) Seseorang yang mandi haid juga hendaknya menggosok-gosokkan bagian tubuhnya yang tidak mudah terjangkau air. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Aisyah r.a., “ ..... kemudian dia menyiramkan air ke atas kepalanya, lalu dia gosok-gosokkan kepala (agar airnya merata).” (HR Muslim dan Ibnu Taimiyah) i.


                                            • Bergeser dari tempat semula membasuh kaki dan mengelap badan dengan kain yang wangi Menjelang selesai mandi, sebelum membasuh kedua kaki, seseorag yang mandi hadi, nifas, atau junub dianjurkan bergeser sedikit dari tempat semula, lalu membasuh kedua kakinya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Maimunah r.a. (HR Bukhari Muslim).

                                            Jika telah selesai mandi, dianjurkan seseorang tidak mengelap badannya dengan handuk ataupun kain lap lainnya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Maimunah r.a., dia berkata, “..... lalu saya mengambilkan sapu tangan, tetapi beliau menolaknya. Beliau tidak mau mengelap tubuhnya dengan sapu tangan tadi.” Beliau menganjurkan mengelap badannya, terutama kemaluannya dengan menggunakan secarik kain atau kapas (atau sejenisnya) yang telah diberi minyak wangi kemudian mengusap bekas darah (pada farji-nya) dengannya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Aisyah r.a., “Asma’ binti Syakal r.a. bertanya kepada Nabi s.a.w. (tentang mandi hadi), beliau bersabda. “Salah seorang di antara kalian (wanita) mengambil air dari sidrah-nya.

                                            Kemudian dia bersuci, ..... lalu mengambil sepotong kain atau kapas yang telah diberi minyak wangi, kemudian dia bersuci (membersihkan tubuhnya) dengannya.” Kemudian Asma’, “Engkau mengikuti (mengusap) bekas darah (dengan kapas atau kain itu).” (HR Muslim dan Al-Albani) Aisyah r.a. berkata, “(Ada) seorang wanita bertanya kepada Nabi s.a.w. mengenai (tata cara) mandinya haid. Maka beliau memerintahkannya tata cara bersuci, dan beliau bersabda, “Hendaklah dia mengambil sepotong kapas atau kain yang diberi minyak wangi kwmudian bersuciah dengannya”. (kemudian) wanita tersebut menjawab, “Bagaimana (caranya) aku bersuci dengannya?”. Beliau bersabda, “Mahasuci Allah, bersucilah!” Maka Aisyah menarik wanita itu kemudian berkata, “Ikutilah (usaplah) olehmu bekas darah itu dengan (potongan kapas atau kain)nya”. (HR Muslim dan Al-Albani)

                                            Rasulullah juga menganjurkan agar tidak berlebihan atau terlalu sedikit dalam menggunakan air. Air juga dapat digunakan untuk menghilangkan bekas (bercak) darah haid yang menmpel pada pakaian. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ummu Qois binti Minshon. Aku bertanya kepada Nabi s.a.w. tentang darah yang mengenai pakaian. Beliau s.a.w. bersabda, “Keriklah dengan kuku dan cukuplah kamu gunakan air dan daun bidara (untuk membasuhnya)”. (HR Bukhari, Muslim, dan Al-Albani)

                                            B. Ditinjau Secara Medis

                                            Tata cara pembersihan daerah kemaluan pasca perdarahan haid, nifas, istihadhah, atau junub secara umum hampir sama seperti pembersihan tubuh secara keseluruhan, dengan urutan-urutannya adalah menyiapkan persiapan perlatan mandi, mencuci tangan, mencuci seluruh tubuh (mandi), dan mengeringkan seluruh bagian tubuh.

                                            1. Persiapan Peralatan Mandi

                                            a. Penyediaan air yang bersih (jernih), mengalir, tidak berbau, dengan jumlah secukupnya di dalam suatu tempat pemandian yang tertutup dan telah dilengkapi dengan fasilitasnya, terutama saluran pembuangannya.

                                            b. Sediakan dan letakkan sabun (pada tempat sabun yang kering).

                                            c. Alat-alat mandi lainnya, terutama wadah berisi cairan antiseptik dan 2 handuk bersih dan kering di tempat yang kering. Sabun yang akan digunakan tidak harus sabun yang mengandung zat antibakteri (antiseptik) karena menurut suatu studi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara sabun biasa dan sabun yang mengandung zat antibakteri (antiseptik).

                                            2. Pencuci Tangan

                                            Pada tahap awal pencucian daerah kemaluan yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah langkah-langkah berikut ini.

                                            a. Cuci kedua tangan yang akan digunakan untuk mandi dan terutama untuk` mencuci daerah kemaluan tubuh.

                                            b. Siapkan gayung yang telah berisi air (yang mungkin telah diberikan cairan antiseptik sebelumnya) atau keluarkan air dari kran shower, lalu siramlah air tersebut untuk mencuci tangan.

                                            c. Cuci tangan dengan menggosok-gosokkan semua permukaan kedua tangan (sebaiknya sampai batas kedua siku tangan) dengan air yang telah diberikan cairan antiseptik sebelumnya atau dengan mengalirkan air disertai dengan mengoleskan kedua tangannya dengan sabun yang tersedia secara maksimal selama minimal 2 menit dan maksimal 10 menit.

                                            d. Bilas kedua tangan yang telah dicuci tersebut dengan air mengalir yang telah tersedia.

                                            e. Keringkan kedua tangan tersebut dengan salah satu handuk yang bersih dan kering, yang telah tersedia sebelumnya. Setelah dipakai untuk mengeringkan kedua tangan, sebaliknya handuk yang telah dipakai tersebut jangan digunakan kembali.

                                            3. Pencucian Daerah Kemaluan

                                            Pada tahap pencucian daerah kemaluan dimulai dengan langkah-langkah berikut:

                                            a. Menyiramkan daerah kemaluan dan sekitarnya, terutama vagina dan vulva dengan air mengalir yang telah tersedia.

                                            b. Bersihkan permukaan kulit dari sisa-sisa kotoran, terutama bekuan darah yang masih menempel di daerah kemaluan dan sekitar genitalia eksternalnya.

                                            c. Usap dan oleskan secukupnya dengan sabun pada daerah sekitar genitalia eksternal sambil menggosok-gosokkannya dengan telapak tangan secara lembut, perlahan, dan optimal, dimulai dari daerah kemaluan bagian dalam (liang vagina) ke bagian luarnyadan daerah sekitar kemaluan.

                                            d. Daerah kemaluan dan sekitarnya yang telah dibersihkan dengan sabun, dicuci dengan air mengalir yang telah tersedia.

                                            e. Lakukan hal-hal tersebut berulang-ulang (secukupnya) sampai dirasakan sisa-sisa kotoran yang menempel di daerah kemaluan bagian dalam (dari vagina) sampai bagian luar dan sekitarnya telah hilang dan bersih.

                                            f. Lakukan pencucian kedua tangan kembali seperti sebelumnya dengan air mengalir yang telah tersedia.

                                            g. Siram dan cuci tubuh secara menyeluruh (mandi).

                                            4. Pencucian Seluruh Tubuh

                                            Tahap selanjutnya adalah melakukan penyiraman air dan pencucian tubuh secara menyeluruh dengan menggunakan air mengalir yang telah tersedia, diikuti penyabunan dan pembilasan tubuh secara menyeluruh kembali dengan air mengalir yang telah tersedia sebelumnya, seperti melakukan aktivitas mandi pada umumnya.

                                            5. Pengeringan Seluruh Bagian Tubuh

                                            Tahap terakhir dari pencucian tersebut adalah pengeringan seluruh bagian tubuh dengan salah satu handuk bersih dan kering yang masih tersedia secara perlahan dan maksimal, terutama di daerah kemaluan dan sekitarnya, serta daerah lipatan-lipatan pada tubuh (seperti daerah selakangan paha dan ketiak). Jangan biarkan sisa-sisa cairan mandi tersebut masih menepel pada tubuh, terutama pada daerah kemaluan dan sekitarnya atau daerah lipatan-lipatan pada tubuh karena akan menimbulkan keadaan lembap, selanjutnya dapat menimbulkan infeksi jamur pada tubuh.


                                            DAFTAR PUSTAKA


                                            Bey Arifin H. dan A. Shyinqithy Djamaluddin, “Terjemahan Sunan Abu Dawud”, CV. Asy-Syifa’ : Semarang, 1992.
                                            Hendrik, M.Kes. Dr. H. “Problema Haid”, Tiga Serangkai : Solo, 2006.




                                            Thursday, March 13, 2014

                                            Pengertian wudhu dan tata cara berwudhu

                                            Wajah adalah anggota badan yang digunakan untuk berhadapan. Batasannya dari ujung dahi (dari tempat tumbuhnya rambut sesuai kebiasaan) sampai pada bagian bawah jenggot dan dagu, dan mulai dari satu telinga sampai telinga yang satunya lagi.

                                            Hukum Membasuh Wajah

                                            Membasuh muka adalah salah satu rukun wudhu yang tidak akan sah jika tidak dikerjakan, firman Allah, “ Hai orang-orang yang beriman, jika kamu hendak melaksanakan shalat maka basuhlah wajahmu. “(QS. Al-Maa’idah:6) dan terdapat dalam keterangan yang jelas dalam sifat wudhu Nabi SAW. Tentang membasuh muka, juga merupakan kesepakatan ulama.

                                            Allah telah memerintahkan membasuh muka, mulut dan hidung termasuk muka, dan tidak boleh mengkhusukannya karena dalam bahasa arab semuanya mengandung arti wajah. Jika dikatakan bahwa lubang mulut dan hidung memiliki nama tersendiri dan dalam bahasa Arab tidak dinamakan dengan wajah ? maka kami katakan. : “demikian pula dengan dagu, dahi, ujung hidung, dua buah alis dan semua bagian wajah, masing-masing memiliki nama sendiri-sendiri, dan tidak dinamakan dengan wajah! Argumen demikian tidak dapat diterima. Allah secara tegas memerintahkan untuk membasuh wajah, lalu Nabi SAW. menfsirkan dengan perbuatan dan ajarannya, beliau berkumur dan beristinsyaq setiap kali berwudhu, dan tidak pernah ada keterangan bahwa beliau tidak melakukannya, jika perbuatan nabi SAW. Mengandung suatu perintah untuk mengikuti , maka itu berkonsekuensi wajib.

                                            Dalam buku fiqh islam membasuh muka berdasarkan surat Al-Maidah : 6. Batas muka yang wajib di basuh ialah dari tempat tumbuhnya rambut kepala sebelah atas sampai kedua tulang dagu sebelah bawah lintangnya dari telinga ketelinga, seluruh bagian muka yang tersebut tadi wajib dari telinga, seluruh bagian muka yang tersebut tadi wajib dibasuh. Tidak boleh ditinggalkan sedikitpun bahkan wajib dilebihkan sedikit agar kita yakin tersbasuh semuanya menurut ahli fiqh. “Sesuatu yang hanya dengan dia dapat disempurnakan yang wajib. Maka hukumannya juga wajib”. (fiqih islam :25)

                                            Basuhlah wajah kalian sebanyak 3 X mulai dari bagian atas jiat sampai bagian bawah dagu. Jika kalian punya janggut yang cukup tebal. Kalian harus mengetengahinya yakni dengan memasukan jari-jari tangan anda yang sudah dibasuhi dengan air kecelah-celah rambut saat sedang wudhu bacalah do’a “ Allahumaghfirli dzanbi wa wassi ‘lifidari wabarik li fi rizqi ( ya Allah ampunilah dosaku, lapangkanlah kuburanku dan berkahilah rizqiku ). (fiqih ibadah :59-60).

                                            Keutamaan Wudhu ( membasuh muka )

                                            Telah diriwayatkan dari Nu’aim Al-Mujmir, ia berkata,” aku pernah naik bersama Abu Hurairah ke atap masjid, lalu ia berwudhu berkata,: aku pernah mendengar Nabi SAW. Bersabda,”sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dengan cahay di wajah, tangan dan kaki karena bekas wudhu. Barang siapa di antar kamu ada yang mampu untuk memperpanjang (memperbesar) cahayanya, maka hendaklah ia melakukannya.”

                                            Hal ini memiliki beberapa kemungkinan

                                            Pertama: neliau menukil lafazh yang disebutkan pada sebagian jalur periwayatan hadits ini dimana dikatakan, “kamu adalah orang-orang yang memiliki cahaya di wajah, “ Lafazh seperti ini dinukil oleh imam Muslim.

                                            Kedua : beliau sengaja meninggalkan sebagian teks pernyataannya, adapun makna lengkapnya adalah,” orang-orang yang memiliki cahaya di wajah, tangan dan kaki, maka bagi mereka keutamaan.”

                                            Ketiga : dalam riwayat Al-Mustamil (salah seorang yang meriwayatkan kitab Shahih Bukhari). Dikatakan bahwa maknanya, “ keutamaan orang-orang yang memiliki cahaya di wajah, tangan dan kaki”, sebagaimana dikatakan oleh Al- Ashili dalam riwayatnya.

                                            Kesimpulan

                                            Dajah adalah anggota badan yang digunakan untuk berhadapan. Batasannya dari ujung dahi (dari tempat tumbuhnya rambut sesuai kebiasaan) sampai pada bagian bawah jenggot dan dagu, dan mulai dari satu telinga sampai telinga yang satunya lagi.

                                            Membasuh muka adalah salah satu rukun wudhu yang tidak akan sah jika tidak dikerjakan, firman Allah, “ Hai orang-orang yang beriman, jika kamu hendak melaksanakan shalat maka basuhlah wajahmu. “(QS. Al-Maa’idah:6) dan terdapat dalam keterangan yang jelas dalam sifat wudhu Nabi SAW. Tentang membasuh muka, juga merupakan kesepakatan ulama.


                                            Daftar Pustaka

                                            Aziz, Abdul M Azzam Dan Wahhab, Abdul Sayyed Hawwas, 2010, Fiqih Ibadah Thaharoh, Sholat, Zakat, Puasa, Haji. Amzati. Jakarta.

                                            Hasan, Syaikh Ayyab. 2006. Fiqih Ibadah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta Timur.

                                            Malik Abu Kamal Bin As-Sayid Salim. 2008. Shahih Fiqh As-Sunnah Wa Adillatuhu Wa Taudhih Madzahib Al A’immah. Pustaka Azzam. Jakarta

                                            Rasjib, Sulaiman 2008. Fiqih Islam. Sinar Baru Al-Gensido. Bandung